SAH !

Seasion 1

mahdusabrori.com

www.mahdusabrori.com

“Yang perlu kalian persiapkan untuk mengarungi bahtera rumah tangga itu adalah kesabaran. Sebab dalam pernikahan itu, sedikit atau banyak, cepat atau lambat, kalian akan bertemu dengan yang namanya kerikil kehidupan. Jangan jadikan kerikil itu sebagai sandungan yang bisa menjatuhkan langkah kalian. Lihatlah (hikmah) kerikil itu sebagai material mahal yang bisa kalian kumpulkan dan kalian jadikan sebagai pengkokoh istana kalian kelak.”

-Penghulu-

Sudah kebayang lah,, melihat judul tulisan ini kamu pasti sudah mengerti kali ini aku bakalan bercerita tentang apa. Yups,, kali ini aku ingin bercerita mengenai akad nikahku. Mulai dari aku berangkat dari rumah, hingga sampai cerita sulitku belajar ijab qobul. Sebenarnya bukan ijab qobulnya yang sulit, tapi menjaga mentalnya agar tetap tenang itu yang lumayan sulit.

Kata “SAH !” merupakan bentuk legitimasi dari saksi pernikahan atas ijab dan qobul yang telah dilakukan antara wali mempelai wanita dan mempelai pria. Ijab qobul ini tidak bisa dianggap remeh, karena selain pertanggung jawabannya sangat besar, terutama nanti di hadapan Allah SWT. Juga karena meskipun kamu sudah hafal di luar kepala, bukan jaminan kamu bakalan lancar saat prosesi ijab qobul.

*****

Malam itu, sekitar jam 21.30 aku berangkat dari rumah bersama keluarga mengendarai minibus sewaan menuju rumah calon istriku di Probolinggo. Sesuai permintaan kami, minibus berwarna biru itu melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri temaramnya malam di pertengahan bulan Agustus. Kami memilih melakukan perjalan malam, karena kami berharap sepanjang perjalanan yang nantinya akan ditempuh kira-kira 6-7 jam itu, bisa kami jadikan waktu untuk tidur. Dan ternyata benar. Semua tertidur pulas, menyisakan aku dan supir minibus yang sedang mengapit sebatang rokok di kedua jari tangan kirinya. Lengkap dengan asap-asap penuh nikotin yang menyembul dari mulutnya. Aku biarkan saja, karena aku yakin itu salah satu cara dia untuk menghilangkan rasa kantuknya.

Tidak banyak yang bisa kulakukan sepanjang perjalanan itu. Selain berdoa agar perjalanan diberi keselamatan, serta acara besok diberi kelancaran. Tidak lupa aku latihan ijab qobul, untuk jaga-jaga takut saat akad nikah nanti aku lupa. Jangan tanya lagi aku gerogi atau tidak. Asal kamu tahu aja, Aku tidak tidur itu bukan karena tidak mengantuk, tapi karena rasa gerogi itu. Serasa panas seluruh badan ini. Beneran, aku tidak bohong !

Jam 03.15, kami sudah memasuki Kota Probolinggo. Kami sempatkan untuk beristirahat dahulu di salah satu masjid yang berada tidak jauh dari jalan raya yang kami lalui tadi. Beristirahat sekaligus menunggu adzan subuh berkumandang.

Aku cerita sedikit tentang masjid ini ya. Masjid yang aku singgahi ini tidak terlalu besar jika dibandingkan masjid-masjid di sekitaran rumahku, di Madura. Tapi meskipun begitu, jangan sangka masjid ini sepi jama’ah. Ramainya bukan main. Aku saja mau wudhu harus antre, berdiri paling belakang diantara empat jama’ah masjid yang lebih dahulu mengantre ketimbang aku. Padahal tempat wudhunya banyak, sekitar tujuh tempat wudhu, tapi tetep aja antre. Mungkin karena letak masjid ini yang pas di pinggir jalan raya, makanya banyak sekali orang yang singgah untuk sekedar istirahat dan shalat. Seperti aku ini. Tapi sayang aku lupa mengambil gambar dan mencatat nama masjid itu.

Kembali ke topik utama.

Semua keluargaku sudah menunaikan shalat subuh. Beristirahat pun terbilang cukup. Kini waktunya melanjutkan perjalanan. Tapi, saat aku buka pintu minibus dan hendak naik, dari balik pagar masjid terlihat ketua rombonganku melambaikan tangan, memanggilku. Kubergegas menghampirinya. Lantas sampai di hadapan beliau, aku disuruh duduk. Dengan berbisik, beliau berkata bahwa aku mau di test apakah ijab qobulku sudah benar atau tidak. Pada waktu itu beliau berlaku sebagai penghulunya. Memang ketua rombonganku seorang kiyai, jadi jika hanya menjadi penghulu saja, mudah baginya.

Tidak menunggu lama, dimulailah test itu. Posisi kami layaknya akad nikah sungguhan. Kita saling berjabat tangan. Ya,, seperti akad nikah pada umumnya gitu lah. Sang penghulu (ketua rombonganku) memulai prosesi ijab qobul. Setelah beliau selesai sekaligus menghentak tanganku, tibalah giliranku untuk menjawab. Tapi, belum selesai kuucapkan semua bacaan yang kuhafalkan semenjak satu minggu yang lalu, ketua rombongaku ini sudah memotong bacaanku. Beliau menegurku. katanya bacaanku kurang benar. Teguran itu sontak membuat mentalku ambruk. Imbasnya pada percobaan kedua, hasilnya nihil. Hafalanku semenjak seminggu yang lalu hilang semua. Wahhh,, ini bencana, kataku. Namun pada percobaan ketiga, setelah berusaha menenangkan hati, dan juga berkat arahan ketua rombonganku, akhirnya di percobaan ketiga aku lancar tanpa hambatan. Semenjak itulah aku semakin memantapkan hafalanku dengan membacanya berulang-ulang kali. Tapi bukan jaminan juga sih, pas hari H nanti semua bisa lancar seperti percobaanku yang terakhir tadi. Bismillah saja.

Tanpa terasa matahari pagi sudah menyoroti kami. Seakan menggertak kami untuk segera melanjutkan perjalanan. Setelah aku dan ketua rombonganku selesai melakukan serangkaian test pra ijab qobul, perjalanan kembali kami lanjutkan. Jam 06.15 kami sudah sampai di rumah saudara dari calon mertuaku. Di rumah inilah kami akan beristirahat dan menyiapkan berbagai macam keperluan. Termasuk menyiapkan seserahan.

Sesuai kesepakatan awal antar kedua keluarga, kami memang disediakan tempat untuk beristirahat. Kenduri –istilah resepsi pernikahan di Probolinggo– rencananya akan dimulai jam 16.00. Oh iya, aku mau cerita, kalau ternyata di Probolinggo itu adat pernikahannya sangat berbeda dibanding di Madura, khususnya di Pamekasan, rumahku. Di Probolinggo, resepsi pernikahan itu lumrah dilaksanakan sebelum akad nikah. Beda dengan kebiasaan di rumahku. Kalau di rumahku, akad nikah terlebih dahulu, baru resepsi.

Beda, kan? Ya,, itulah Indonesia. Kaya akan adat dan budaya. Adat setiap daerah berbeda-beda. Dan kami selaku tamu, sadar bahwa kami harus menghargai itu semua.

Usai beristirahat dan sarapan pagi, di rumah yang kami tumpangi ini, ternyata aku kembali dipanggil oleh ketua rombonganku untuk ditest melakukan ijab qobul, terakhir kalinya sebelum benar-benar melakukan ijab qobul di depan penghulu yang sesungguhnya.

Singkat cerita, test kedua kalinya ini lagi-lagi bacaanku keliru. Terlihat jelas raut wajah ketua rombonganku dan Ayahku menampakkan kekhawatiran. Atau lebih tepatnya raut kekecewaan. Entah karena apa ketika kupraktekan di depan banyak orang, semua hafalanku seperti tidak berguna. Padahal saat sendirian, diucapkan dengan bersuara maupun dibaca dalam hati, sangat lancar tidak mengkhawatirkan. Sekarang, yang khawatir bukan cuma aku, segenap keluargaku. Khawatir aku tidak bisa melakukan ijab qobul dengan lancar dan sempurna ketika hari H nanti.

Tapi, semoga kekhawatiranku dan segenap keluargaku tidak terjadi.

*****

Bagaimana kelanjutan dari cerita “SAH !” ini? Bagaimana dengan ijab qobulku? Bagaimana dengan malam pertamaku? *upss 😀

Semua akan terjawab di seasion selanjutnya 😀 😀

5 Comments

    Rozi

    Sah!

      Mahdus Abrori

      Barokallah! 😀

    ALAM

    Judulnya SAH!
    Tapi endingnya belum sah, bikin penasaran aja!!

      Mahdus Abrori

      Tungguin ya kaka..

    ALAM

    Jadi mana nih kelanjutannya? Nungguin lho..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: