“SAH !”

Seasion 2

mahdusabrori.com

mahdusabrori.com

Ehh,, kamu! Iya kamu! Kamu gaya-gayaan baca ini, memangnya sudah baca seasion pertamanya?

Sudah? Oke baiklah kalau begitu. Yuk, simak lanjutan ceritaku. Siapa tahu jadi bahan pelajaran buat kamu yang masih belum menikah.

*****

Kekhawatiran yang berlebihan membuat pikiranku sedikit terbebani. Membuatku cepat merasa lelah. Malas mau ngapa-ngapain. Termasuk makan.

Tapi aku sadar bahwa aku harus segera keluar dari situasi tidak baik itu. Kembali kuberlatih dengan keras. Aku baca ijab qobul berkali-kali. Sepuluh kali, duapuluh kali, tigapuluh, limapuluh, seratus, dan sampai tidak terhitung berapa kali aku mengucapkannya. Berharap ijab qobul itu tertanam di pikiranku. Sehingga aku tidak akan lupa lagi.

Pagi beranjak siang. Sebentar lagi Kenduri akan dimulai. Keluarga besarku mulai sibuk mengurusi segala hal. Ada yang sibuk memastikan seserahan dalam kondisi yang baik. Ada juga yang sibuk menyiapkan pakaianku. Ada pula yang sibuk dengan dandanannya sendiri. Tacap sana, tacap sini.

Akibat sibuk dengan urusan masing-masing. Kami tidak sadar kalau Kenduri harus segera dimulai. Jam 16.00, tidak kurang dan tidak lebih, Kenduri pun dimulai. Setelah semuanya dirasa beres, kami sekeluarga berjalan beriringan memasuki rumah calon istriku. Dentuman musik dari sound system, sepertinya memang sengaja dikencangkan oleh operator untuk menyambut kedatangan kami. Nampak dari kejauhan, pelaminan berwarna putih yang dihias dengan bermacam jenis bunga berwarna-warni. Di depan pelaminan berjejer meja-meja dan kursi untuk tamu. Lengkap dengan berbagai variasi hidangan di atas meja.

Kenduri (resepsi) berjalan layaknya resepsi pernikahan pada umumnya. Aku dan calon istriku duduk di kursi pelaminan sambil sesekali harus berdiri untuk menghargai tamu yang ingin mengucapkan selamat dan minta foto bareng. Duduk lagi, berdiri lagi, duduk lagi, berdiri lagi. Gitu terus sampai jam 21.00. Tanpa jeda. Kecuali shalat dan ganti busana pengantin. Lelah? Pasti lah. Tapi itu merupakan moment sekali dalam seumur hidup. Jadi meskipun terasa melelahkan, tetap kunikmati.

Kenduri berakhir jam 21.00. Pada waktu itulah aku dan keluargaku mulai kembali ke rumah yang sudah disediakan buat kami beristirahat. Beristirahat untuk besok, akad nikahku.

Malam itu terasa berlalu sangat cepat. Tanpa dirasa, adzan subuh sudah menggema dari pelosok-pelosok gang. Entah kenapa terasa lebih cepat, mungkin saking lelahnya hingga aku merasa istirahatku masih kurang lama. Atau karena gerogi? Entah lah.

Sesuai rencana, prosesi akan dilaksanakan pada jam 07.00 tepat di hari lahirku. Jadi, karena akad nikahnya jam 07.00, semenjak pagi-pagi buta keluargaku sudah mulai disibukkan oleh berbagai macam hal. Entah apa aja yang mereka lakukan, aku tidak tahu karena aku tidak terlalu memperhatikan. Aku malah sibuk sendiri belajar ijab qobul hingga tidak sadar akan aktifitas keluaragaku.

Aku menambah porsi latihanku karena waktu akad nikahnya sudah hampir sampai. Aku berlatih ijab qobul berulang-ulang hingga tidak terhitung lagi berapa kali aku mengucapkannya. Terus seperti itu, sampai pada akhirnya aku diteriaki dari luar kamar oleh kakakku agar aku lekas mandi dan berganti pakaian karena akad nikah akan segera dimulai. Pakaian khusus akad nikah memang telah disiapkan sejak kemarin oleh pihak calon istriku. Pakaiannya serba putih. Baju, celana, kopyah, dan sepatu, semua berwarna putih.

Jam 6.45, aku sudah siap dengan pakaian serba putih berkalung rangkaian bunga melati. Keluargaku nampaknya juga sudah siap semua. Termasuk ketua rombonganku yang sedari tadi berdiri di sampingku. Sesekali beliau menepuk-nepuk bahuku sambil berpesan agar aku tetap tenang, dan jangan sampai berhenti berdzikir.

Jam 6.50, kami sekeluarga berangkat menuju rumah calon istriku dengan berjalan kaki. Itu karena jarak rumah calon istriku dari tempat kami beristirahat tidak terlalu jauh. Masih satu kelurahan, hanya berbeda gang saja. Dan jika diukur dengan waktu, kami bisa sampai ke rumah calon istriku dengan berjalan kaki hanya dalam kisaran waktu 2-3 menit saja.

Setelah beberapa menit berjalan, kami sampai di rumah calon istriku. Para tamu undangan sudah berdatangan mendahului kami, duduk bersila memenuhi teras rumah calon istriku. Prosesi akad nikahku dikemas secara sederhana. Tamu yang diudang hanyalah para tetangga terdekat dan keluarga inti saja. Tidak ada sound system, tidak ada tenda, apalagi panggung pelaminan. Panggung pelaminan yang digunakan kemarin hanya dipakai saat kenduri saja, setelah itu dibongkar.

Sesuai kesepakatan di awal, jam 07.00 Penghulu datang dengan menjinjing tas hitam, berbaju batik dan berkopyah hitam. Seketika itu adrenalinku mulai meningkat. Pada saat itu Penghulu bagiku bagaikan Algojo yang akan segera mengeksekusiku. Serem!

Setelah Penghulu duduk di tempat yang sudah disediakan, lantas ketua rombonganku menyuruhku duduk tepat di depan Penghulu. Posisiku duduk bersila. Aku dan Penghulu hanya dibatasi meja kecil berhias rangkaian kembang mayang. Disampingku sudah siap calon mertuaku (pada saat itu).

Pada saat Penghulu masih sibuk dengan berkas-berkasnya, terdengar suara dari ketua rombonganku meminta agar sebaiknya Penghulu menge-test ijab qobulku. Penghulu mengiyakan. Dicobalah ijab qobulku.

“Pakai bahasa apa?” tanya Penghulu.

“Arab” jawabku.

Tahu tidak kenapa aku pilih Bahasa Arab? Karena bacaannya pendek! Hihihi.

Asal kamu tahu aja. Meskipun hanya masih uji coba, tapi rasa gugupku tidak coba-coba. Sungguh, gemetar tangan ini. Dan benar, bacaan ijab qobulku salah lagi. “Ya Allah..” dumamku dalam hati.

Terlihat ketua rombonganku menatapku sambil tersenyum. Seakan ingin menyamangatiku agar aku lebih tenang. Terlihat beliau mengisyaratkan agar aku bersholawat sebelum test kedua.

Tak berpikir panjang, aku lantunkan shalawat dalam hati. Mencoba menenangkan diri untuk tetap fokus. Alhamdulillah.. percobaan kedua aku lancar. Tidak ada lagi teguran dari Penghulu.

Dirasa siap, penghulu memanggil saksi dari kedua belah pihak. Tidak lupa calon mertuaku juga dipanggil untuk segera melakukan pemasrahan akad nikah kepada Penghulu.

Proses pemasrahan akan nikah berlangsung singkat dan lancar.

Tibalah kini giliranku. Giliran untuk mempraktekan ijab qobul yang sudah lama aku pelajari.

Semua sudah bersiap. Penghulu sudah mengangkat mikrofon yang sedari tadi sudah ia pegang. Dengan suara lantang, Penghulu memulai prosesi akad nikah ini. Tak sengaja aku menatap ke para undangan, dan ternyata semua lagi memandangiku. Duh, semakin gemetar lutut ini. Tapi aku mencoba untuk tetap fokus pada ucapan Penghulu. Karena cuma itu yang bisa aku lakukan agar aku tidak gugup, dan mengulangi kesalahanku.

Aku tunggu isyarat Penghulu yang berupa hentakan tangan itu. Dan,,

“Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha bil Mahril Madzkuur” jawaban itulah yang terucap dari lisanku tatkala tangan ini benar-benar dihentakkan. Alhamdulillah dengan sekali jawab, para saksi mengesahkan ijab qobulku. Perjuangan selama beberapa minggu yang lalu untuk menghapal kalimat itu, terbayar sudah.

Setelah para saksi mengesahkan ijab qobulku, penghulu langsung memimpin doa. Serentak semua mengamini, termasuk aku. Aku memejamkan mata, dengan maksud ingin meresapi setiap bait doa yang diucapkan Penghulu. Gemetar hati. Serius! Gemetar hatiku. Di satu sisi aku merasakan kebahagiaan yang amat besar. Tapi di satu sisi lagi aku bertanya-tanya. Mampukah aku menjadi perantara terbukanya pintu surga untuk istriku? Mampukah aku menghidupi keluargaku kelak? Mampukah aku menjadi pemimpin yang baik bagi istriku? Bukankah kalau aku gagal mendidik istri dan anak-anakku, aku akan menadapat dosa?

Semua pertanyaan itu berseliweran di otakku. Tapi itu Cuma sekian detik saja. Selebihnya aku menikmati kebahagiaan itu.

Syukur Alhamdulillah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*